AI dan Pendidikan Tinggi Lima Tahun ke Depan

UIS – AI lingkungan pendidikan tinggi mengingatkan kita saat kalkulator dan aplikasi wordstar ditemukan. Tentu tanpa membandingkan kecanggihan teknologinya, mengingat AI generatif begitu spektakuler.
Kalkulator awalnya disebut sebagai biang keladi yang akan melemahkan kemampuan numerik dan logika matematika pelajar dan mahasiswa.
Demikian juga aplikasi wordstar yang dituding akan mendorong kecurangan dalam pembuatan tugas dan makalah copy-paste. Semua itu ternyata berlalu begitu saja dengan sendirinya.

Prediksi
Memetakan dampak AI pada ekosistem perguruan tinggi dalam rentang lima tahun, dilandasi bahwa teknologi AI berkembang sangat cepat, sudah merambah lingkungan perguruan tinggi, dan akan memengaruhi proses belajar-mengajar dan penelitian.
Institusi pendidikan tinggi dan pemerintah harus mengantisipasi perubahan dan menyiapkan kebijakan yang relevan. Dalam lima tahun, AI diproyeksikan akan semakin canggih dan mudah diakses.
Pendidikan tinggi kerap lambat mengadopsi inovasi. Perguruan tinggi perlu menyesuaikan proses bisnis, belajar mengajar, bahkan kurikulumnya.

Juga menyediakan sumber daya, melatih dosen dan staf, memfasilitasi platform AI, dan membuat regulasi untuk mengintegrasikan AI ke dalam proses pembelajaran dan operasional perguruan tinggi.
Adaptasi dalam waktu lima tahun, memungkinkan perubahan bertahap yang tidak mengganggu kestabilan pendidikan, tapi tetap tanggap dan tak abai terhadap perkembangan teknologi.
Hal yang relatif pasti, AI akan memengaruhi jenis pekerjaan yang dibutuhkan di masa depan. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu memastikan bahwa lulusan mereka memiliki keterampilan relevan untuk menghadapi transformasi digital di dunia kerja.
Prediksi ini tentu bukan untuk menjadi ketakutan, tetapi lebih sebagai upaya mengidentifikasi berbagai kemungkinan perubahan sebagai dampak teknologi AI.
Lima tahun adalah waktu ideal bagi institusi pendidikan untuk membuat perubahan dalam kebijakan, infrastruktur, dan kurikulum tanpa risiko menjadi ketinggalan zaman.
Perode lima tahun diambil dari prediksi yang diutarakan Bill Gates sebagaimana laporan CNN “Bill Gates explains how AI will change our lives in 5 years” (16/01/2024).
Bill Gates meramalkan bahwa teknologi tersebut akan membawa perubahan besar bagi semua orang dalam lima tahun mendatang.
Ia menyatakan, saat ini tidak diperlukan banyak perangkat keras baru, karena akses terhadap AI dapat dilakukan melalui telepon pintar atau personal komputer yang sudah terhubung dengan koneksi internet.
Perkembangan AI Generatif seperti ChatGPT OpenAI juga sangat dramatis. Gates menyatakan AI dapat membaca dan menulis, membuat kita ibarat memiliki pekerja kerah putih.

Ai bisa menjadi tutor, memberikan saran kesehatan, membantu menulis kode, dan membantu panggilan dukungan teknis.
Tokoh teknologi digital itu menyatakan, menggabungkan teknologi ini ke dalam sektor pendidikan atau medis akan menjadi luar biasa.
Dari personalisasi pembelajaran hingga otomatisasi tugas administratif, teknologi ini dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran.

Namun, untuk mencapai manfaat optimal, tantangan seperti kesenjangan akses teknologi, masalah privasi, dan risiko ketergantungan pada ai perlu diatasi.
Dengan pendekatan yang tepat, ai dapat membantu menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan siap menghadapi tantangan di masa depan.

Dikutip “google cloud: what is artificial intelligence (AI)?”, AI adalah serangkaian teknologi yang memungkinkan komputer melakukan berbagai fungsi tingkat lanjut, termasuk kemampuan untuk melihat, memahami, dan menerjemahkan bahasa lisan dan tulisan, menganalisis data, membuat rekomendasi, dan banyak lagi.

Oleh karena itu, ai relatif menjadi tulang punggung inovasi dalam komputasi modern bagi individu dan bisnis. AI akan membawa perubahan signifikan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan tinggi dalam lima tahun mendatang.
Semua perguruan tinggi harus secara sungguh-sungguh mengantisipasi dampak ai pada institusinya. Seperti diutarakan di awal tulisan ini, ai akan dengan sangat mudah diakses karena relatif perangkat pendukungnya telah tersedia dan beredar massal.
Demikian juga, platform digital berkekuatan ai generatif begitu mudah ditemukan dan dimanfaatkan oleh siapa pun, termasuk para dosen dan mahasiswa.

Personalisasi pembelajaran
Times higher education dalam publikasinya berjudul “three ways ai and immersive technology will revolutionise personalised learning” (nader jalili, 23/07/2024) menguraikan tentang pembelajaran yang dipersonalisasi.
Model ini merupakan pendekatan pendidikan dengan memanfaatkan AI, augmented reality (ar) dan virtual reality (vr), untuk menciptakan pengalaman belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan individu mahasiswa.
Ahli dari smu lyle school of engineering itu menjelaskan, pendekatan ini melibatkan penyesuaian kecepatan belajar.

Teknologi AI memungkinkan terciptanya avatar virtual sebagai tutor pribadi, yang dapat beradaptasi dengan kecepatan belajar dan gaya pembelajaran setiap mahasiswa.
Dengan bantuan headset ar, mahasiswa dapat belajar di lingkungan yang imersif sesuai ritme mereka, mengurangi ketidakselarasan antara mahasiswa yang cepat, dan yang lambat dalam memahami materi.
Artikel itu juga menyoroti dimungkinkannya penggunaan metode naratif dan games (atau studi kasus), yang membuat pembelajaran lebih menarik dan efektif.

Teknologi ini memanfaatkan narasi untuk memperkuat daya ingat dan membuat peserta didik lebih terlibat dengan konten.
Dengan demikian, metode ini akan membantu mahasiswa untuk mengingat dan memproses informasi lebih baik dibandingkan dengan data yang disajikan secara terisolasi.
Lingkungan belajar virtual dapat sepenuhnya disesuaikan dengan preferensi dan kebutuhan mahasiswa, dari bentuk avatar hingga format konten (audio, video, artikel).
Teknologi “digital twin” memungkinkan kolaborasi dalam ruang virtual, menciptakan pengalaman belajar lebih inklusif dan interaktif bagi setiap individu.
Agar pembelajaran yang dipersonalisasi berjalan efektif, dukungan dari fakultas dan adaptasi kurikulum sangat diperlukan.

Perubahan budaya di lingkungan pendidikan tinggi diperlukan untuk mendorong adopsi teknologi ini untuk mempersiapkan mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja.

Sementara itu, UNESCO MGIEP mempublikasikan laporan berjudul personalising ‘learning’ – can ai promise customised education for ‘humanity’ yang ditulis nandini chatterjee singh.
Peneliti ini menyatakan bahwa sejauh ini, sistem pendidikan berbasis kurikulum diarahkan untuk menghasilkan SDM dan menerapkan pendekatan satu kriteria untuk semua.
Pendekatan ini telah menyebabkan hasil yang tidak diinginkan, seperti banyak individu yang terlatih, tapi tidak mampu beradaptasi dengan perubahan persyaratan pekerjaan, yang antara lain karena kurangnya mempertimbangkan bakat alami, sehingga mematikan kreativitas.
Senior national program OFFICER UNESCO mgiep dan ahli cognitive neuroscientist itu menguraikan, pentingnya pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu dengan memanfaatkan AI.
Penelitian terbaru menunjukkan, setiap individu memiliki keunikan cara belajar, yang tidak dapat dijangkau oleh sistem pendidikan yang mengadopsi pendekatan secara seragam.
Persoalan sistem pendidikan saat ini adalah kurangnya penyesuaian terhadap bakat individu, ketiadaan motivasi belajar, dan ketidakmampuan beradaptasi, dengan tuntutan pekerjaan dinamis, yang berdampak pada ketidakpuasan dan ketidakbahagiaan mahasiswa.
Nandini chatterjee lebih lanjut menyatakan, AI bepotensi sebagai solusinya. AI menawarkan pendekatan belajar dipersonalisasi melalui model pembelajaran adaptif.
Generasi pertama dan kedua AI telah menunjukkan kemampuannya dalam mengenali pola, meskipun dengan keterbatasan konteks.
AI generatif yang lebih canggih diharapkan dapat memahami konteks dan mengabstraksi pengetahuan di berbagai domain. Hal ini dapat membuat model pembelajaran yang lebih efektif dalam menciptakan pengalaman pembelajaran secara individual.

Dalam pendidikan, AI berpotensi menyediakan konten pembelajaran yang sesuai, baik secara teknis juga emosional. Hal ini akan memberi kesempatan belajar secara mendalam dan disesuaikan dengan kebutuhan mereka.
Dirangkum dari laporan penelitian ini bahwa dosen juga dapat menerapkan metode pengajaran yang lebih efektif dan terukur.
Analitik data akan membantu proses identifikasi pola belajar individu, sehingga memungkinkan solusi pembelajaran yang lebih optimal dan personal. Model personalisasi dengan menggunakan AI juga seharusnya diterapkan dalam pola rekrutmen lulusan perguruan tinggi oleh pencari tenaga kerja.
Generalisasi model tes yang digunakan selama ini dengan mengutamakan keseragaman, berujung pada tak tergalinya potensi dari keberagaman bakat dan kemampuan SDM.
Seleksi yang menekankan pendekatan standar minimal kompetensi, melalui penyeragaman materi, tanpa menilai bakat dan potensi individual, harus dievaluasi. Sudah saatnya ai dimanfaatkan untuk seleksi berbasis kapasitas yang dipersonalisasi secara tanpa bias.

Dikutip : Kompas 28 Oktober 2024
link : https://www.kompas.com/edu/read/2024/10/28/082652671/ai-dan-pendidikan-tinggi-lima-tahun-ke-depan-bagian-i?page=1

Tulisan : Prof. Dr. Ahmad M Ramli
Guru Besar Cyber Law & Regulasi Digital UNPAD

Scroll to Top