UIS – Dunia kerja terus berubah seiring perkembangan industri dan investasi di Kota Batam. Menjawab tantangan tersebut, UIS memperkuat sinergi dengan dunia usaha, industri, pemerintahan, perbankan, dan berbagai mitra strategis melalui Pertemuan Mitra Kerja Sama dan Diseminasi Hasil Tracer Study serta Survei Kepuasan Pengguna Alumni, Rabu (22/7/2026) diruang pertemuan gedung F.
Kegiatan yang digelar di lingkungan kampus UIS tersebut menjadi ruang strategis bagi universitas untuk mendengarkan langsung kebutuhan dunia kerja sekaligus mengevaluasi relevansi kompetensi lulusan dengan tuntutan industri. Puluhan perwakilan instansi pemerintah, perusahaan, lembaga perbankan, rumah sakit, hingga lembaga penyiaran turut hadir memberikan masukan dalam sesi diskusi dan Focus Group Discussion (FGD). Rektor Universitas Ibnu Sina, Associate Prof. Dr. Ir. Larisang, M.T., IPU, mengatakan keterlibatan mitra industri menjadi bagian penting dalam upaya UIS memastikan proses pendidikan yang diselenggarakan mampu menjawab kebutuhan dunia kerja yang semakin dinamis.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik. Lulusan juga harus memiliki integritas, kemampuan beradaptasi, kreativitas, inovasi, serta kesiapan menghadapi perubahan lingkungan kerja. “Kami ingin memastikan bahwa kurikulum yang kami desain benar-benar memenuhi kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja. Karena itu, masukan dari para pengguna lulusan menjadi sangat penting bagi kami untuk terus melakukan perbaikan dan pengembangan,” ujar Rektor UIS.
Ia menegaskan, hal tersebut sejalan dengan visi UIS dalam melahirkan lulusan yang Unggul, Berintegritas, dan Berjiwa Entrepreneurship.
Sementara itu, Kepala Bidang Tracer Study UIS, Dr. Ahmadi, SKM., MKL, memaparkan hasil tracer study alumni tahun 2025 yang menunjukkan capaian positif. Tingkat respons alumni tercatat mencapai 79,2 persen, sementara 96,6 persen lulusan UIS memperoleh pekerjaan dalam waktu kurang dari tiga bulan setelah menyelesaikan pendidikan.
Dari sisi penghasilan, rata-rata gaji lulusan berada di kisaran Rp5 juta. Berdasarkan sektor pekerjaan, mayoritas alumni berkarier di sektor swasta sebesar 55,4 persen, disusul instansi pemerintah sebesar 25,4 persen.
Data tersebut, menurut Dr. Ahmadi, menjadi gambaran penting bagi universitas dalam mengukur tingkat keberhasilan pendidikan sekaligus menjadi dasar untuk melakukan evaluasi dan penyempurnaan kurikulum secara berkelanjutan.
Kegiatan yang digelar di lingkungan kampus UIS tersebut menjadi ruang strategis bagi universitas untuk mendengarkan langsung kebutuhan dunia kerja sekaligus mengevaluasi relevansi kompetensi lulusan dengan tuntutan industri. Puluhan perwakilan instansi pemerintah, perusahaan, lembaga perbankan, rumah sakit, hingga lembaga penyiaran turut hadir memberikan masukan dalam sesi diskusi dan Focus Group Discussion (FGD). Rektor Universitas Ibnu Sina, Associate Prof. Dr. Ir. Larisang, M.T., IPU, mengatakan keterlibatan mitra industri menjadi bagian penting dalam upaya UIS memastikan proses pendidikan yang diselenggarakan mampu menjawab kebutuhan dunia kerja yang semakin dinamis.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik. Lulusan juga harus memiliki integritas, kemampuan beradaptasi, kreativitas, inovasi, serta kesiapan menghadapi perubahan lingkungan kerja. “Kami ingin memastikan bahwa kurikulum yang kami desain benar-benar memenuhi kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja. Karena itu, masukan dari para pengguna lulusan menjadi sangat penting bagi kami untuk terus melakukan perbaikan dan pengembangan,” ujar Rektor UIS.
Ia menegaskan, hal tersebut sejalan dengan visi UIS dalam melahirkan lulusan yang Unggul, Berintegritas, dan Berjiwa Entrepreneurship.
Sementara itu, Kepala Bidang Tracer Study UIS, Dr. Ahmadi, SKM., MKL, memaparkan hasil tracer study alumni tahun 2025 yang menunjukkan capaian positif. Tingkat respons alumni tercatat mencapai 79,2 persen, sementara 96,6 persen lulusan UIS memperoleh pekerjaan dalam waktu kurang dari tiga bulan setelah menyelesaikan pendidikan.
Dari sisi penghasilan, rata-rata gaji lulusan berada di kisaran Rp5 juta. Berdasarkan sektor pekerjaan, mayoritas alumni berkarier di sektor swasta sebesar 55,4 persen, disusul instansi pemerintah sebesar 25,4 persen.
Data tersebut, menurut Dr. Ahmadi, menjadi gambaran penting bagi universitas dalam mengukur tingkat keberhasilan pendidikan sekaligus menjadi dasar untuk melakukan evaluasi dan penyempurnaan kurikulum secara berkelanjutan.

Memasuki sesi FGD, berbagai masukan dari dunia industri mengemuka. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kemampuan bahasa asing, khususnya Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris, yang dinilai semakin penting bagi lulusan yang akan memasuki pasar kerja di Batam.
Perwakilan PT Giken, Wasito, mengatakan kemampuan komunikasi menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan seseorang memasuki dunia kerja. Menurutnya, selain kompetensi teknis, integritas dan moral merupakan karakter pribadi yang harus dibangun sejak dari lingkungan pendidikan.
Dengan jumlah tenaga kerja yang mencapai sekitar 2.500 karyawan, kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang mampu berkomunikasi dalam Bahasa Mandarin juga semakin besar, terutama seiring meningkatnya aktivitas investasi dan hubungan bisnis dengan perusahaan asal Tiongkok.
“Kalau mau berhasil, komunikasi menjadi salah satu kunci. Integritas dan moral itu menjadi bagian dari pribadi seseorang. Kami juga melihat kemampuan Bahasa Mandarin semakin dibutuhkan. Selama ini, salah satu kendala calon tenaga kerja adalah ketika menghadapi proses wawancara karena keterbatasan bahasa,” ungkapnya.
Masukan serupa disampaikan perwakilan PT McDermott Indonesia yang menekankan pentingnya penguatan kemampuan Bahasa Inggris bagi mahasiswa. Selain penguasaan bahasa, mahasiswa tingkat akhir juga dinilai perlu mendapatkan pembekalan yang lebih intensif mengenai teknik menghadapi wawancara kerja agar lebih percaya diri dan mampu mempresentasikan kompetensinya di hadapan perusahaan.
Integritas dan Attitude Tetap Menjadi Modal Utama
Dari sektor perbankan, perwakilan Bank Jatim dan Bank BSN menyoroti pentingnya integritas, etika, dan attitude sebagai fondasi utama seorang profesional.
Kemampuan akademik dan teknis, menurut mereka, harus berjalan beriringan dengan karakter dan etika. Sebab, dunia kerja tidak hanya membutuhkan tenaga profesional yang cakap secara keilmuan, tetapi juga individu yang dapat dipercaya, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, dan memiliki etika dalam menjalankan tugas.
Sementara itu, RRI Batam memberikan perspektif berbeda namun tidak kalah penting, yakni perlunya penguatan jiwa kewirausahaan di kalangan mahasiswa.
Pendidikan dinilai harus mampu mengubah mindset mahasiswa agar tidak hanya berorientasi sebagai pencari kerja, tetapi juga memiliki keberanian untuk menciptakan peluang. Pola pikir kewirausahaan perlu ditanamkan sejak dini agar mahasiswa memiliki kemampuan berpikir cepat, tanggap, adaptif, dan reaktif terhadap perubahan lingkungan.
Masukan tersebut memperkuat komitmen UIS untuk terus mengembangkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga membangun karakter dan kesiapan lulusan menghadapi tantangan global.
Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah mitra UIS, di antaranya PT McDermott Indonesia, PT Tosan Aji Mupuni, PT Nextra Teknikal Servis, PT Bahtera Bahari Shipyard, Dinas Kesehatan, Akademi Melayu Dermawa, Bursa Efek Indonesia (BEI), BMU, RRI, Bank Muamalat, PT CLT, RS Hj. Bunda Halimah, Bank Jatim, Bank BSN, KPU Kota Batam, PT Giken, serta Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK).
Melalui forum tersebut, UIS berharap hubungan antara perguruan tinggi dan dunia kerja tidak berhenti pada kerja sama formal, tetapi berkembang menjadi kolaborasi nyata dalam pengembangan kurikulum, peningkatan kompetensi mahasiswa, serta penciptaan sumber daya manusia yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
Bagi UIS, keterlibatan industri dalam mengevaluasi proses pendidikan menjadi bagian penting dari perjalanan menuju perguruan tinggi yang semakin relevan, adaptif, dan berdampak bagi masyarakat serta dunia kerja, khususnya di Kota Batam sebagai salah satu kawasan industri dan investasi strategis di Indonesia.
Perwakilan PT Giken, Wasito, mengatakan kemampuan komunikasi menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan seseorang memasuki dunia kerja. Menurutnya, selain kompetensi teknis, integritas dan moral merupakan karakter pribadi yang harus dibangun sejak dari lingkungan pendidikan.
Dengan jumlah tenaga kerja yang mencapai sekitar 2.500 karyawan, kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang mampu berkomunikasi dalam Bahasa Mandarin juga semakin besar, terutama seiring meningkatnya aktivitas investasi dan hubungan bisnis dengan perusahaan asal Tiongkok.
“Kalau mau berhasil, komunikasi menjadi salah satu kunci. Integritas dan moral itu menjadi bagian dari pribadi seseorang. Kami juga melihat kemampuan Bahasa Mandarin semakin dibutuhkan. Selama ini, salah satu kendala calon tenaga kerja adalah ketika menghadapi proses wawancara karena keterbatasan bahasa,” ungkapnya.
Masukan serupa disampaikan perwakilan PT McDermott Indonesia yang menekankan pentingnya penguatan kemampuan Bahasa Inggris bagi mahasiswa. Selain penguasaan bahasa, mahasiswa tingkat akhir juga dinilai perlu mendapatkan pembekalan yang lebih intensif mengenai teknik menghadapi wawancara kerja agar lebih percaya diri dan mampu mempresentasikan kompetensinya di hadapan perusahaan.
Integritas dan Attitude Tetap Menjadi Modal Utama
Dari sektor perbankan, perwakilan Bank Jatim dan Bank BSN menyoroti pentingnya integritas, etika, dan attitude sebagai fondasi utama seorang profesional.
Kemampuan akademik dan teknis, menurut mereka, harus berjalan beriringan dengan karakter dan etika. Sebab, dunia kerja tidak hanya membutuhkan tenaga profesional yang cakap secara keilmuan, tetapi juga individu yang dapat dipercaya, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, dan memiliki etika dalam menjalankan tugas.
Sementara itu, RRI Batam memberikan perspektif berbeda namun tidak kalah penting, yakni perlunya penguatan jiwa kewirausahaan di kalangan mahasiswa.
Pendidikan dinilai harus mampu mengubah mindset mahasiswa agar tidak hanya berorientasi sebagai pencari kerja, tetapi juga memiliki keberanian untuk menciptakan peluang. Pola pikir kewirausahaan perlu ditanamkan sejak dini agar mahasiswa memiliki kemampuan berpikir cepat, tanggap, adaptif, dan reaktif terhadap perubahan lingkungan.
Masukan tersebut memperkuat komitmen UIS untuk terus mengembangkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga membangun karakter dan kesiapan lulusan menghadapi tantangan global.
Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah mitra UIS, di antaranya PT McDermott Indonesia, PT Tosan Aji Mupuni, PT Nextra Teknikal Servis, PT Bahtera Bahari Shipyard, Dinas Kesehatan, Akademi Melayu Dermawa, Bursa Efek Indonesia (BEI), BMU, RRI, Bank Muamalat, PT CLT, RS Hj. Bunda Halimah, Bank Jatim, Bank BSN, KPU Kota Batam, PT Giken, serta Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK).
Melalui forum tersebut, UIS berharap hubungan antara perguruan tinggi dan dunia kerja tidak berhenti pada kerja sama formal, tetapi berkembang menjadi kolaborasi nyata dalam pengembangan kurikulum, peningkatan kompetensi mahasiswa, serta penciptaan sumber daya manusia yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
Bagi UIS, keterlibatan industri dalam mengevaluasi proses pendidikan menjadi bagian penting dari perjalanan menuju perguruan tinggi yang semakin relevan, adaptif, dan berdampak bagi masyarakat serta dunia kerja, khususnya di Kota Batam sebagai salah satu kawasan industri dan investasi strategis di Indonesia.


