UIS – Tingginya mobilitas penduduk internasional yang keluar masuk melalui Batam menjadikan Kepulauan Riau sebagai salah satu wilayah yang rentan terhadap penyebaran penyakit lintas negara. Kondisi tersebut menjadi perhatian utama dalam Seminar Kesehatan bertajuk “Perbatasan Tanpa Batas Penyakit, Kesehatan Migrasi di Gerbang Kepri” yang diselenggarakan Program Studi Kesehatan Lingkungan, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Ibnu Sina, Sabtu (11/7/2026), di Aula Pemerintah Kota Batam dan diikuti secara hybrid
Seminar ini menjadi forum ilmiah yang mempertemukan mahasiswa, tenaga kesehatan, akademisi, praktisi, serta masyarakat umum untuk membahas tantangan pengendalian penyakit di wilayah perbatasan dan kawasan industri, sekaligus memperkuat kolaborasi dalam membangun sistem kesehatan yang tangguh di Provinsi Kepulauan Riau.
Mewakili Wali Kota Batam, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Batam, Melda Sar, S.Kep., M.M., membuka kegiatan sekaligus menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor kesehatan dalam menghadapi ancaman penyakit lintas negara.
Menurutnya, Batam sebagai gerbang utama Indonesia yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia memiliki posisi strategis dalam menjaga kesehatan masyarakat sekaligus mengantisipasi masuknya penyakit akibat tingginya mobilitas manusia.
Sementara itu, Wakil Rektor I Universitas Ibnu Sina, Dr. Fitri Sari Dewi, S.KM., M.KKK., mengapresiasi atas terselenggaranya seminar sebagai implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pengabdian kepada masyarakat.
Ia berharap seminar ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga mampu memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dengan pemerintah, dunia kesehatan, dan berbagai pemangku kepentingan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.
Senada dengan itu, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Ibnu Sina, Dr. Hengky Oktarizal, S.KM., M.KM., mengatakan isu kesehatan migrasi dan pengendalian penyakit di wilayah perbatasan merupakan tantangan yang semakin kompleks sehingga memerlukan pendekatan multidisiplin.
“Wilayah perbatasan memiliki karakteristik yang berbeda dengan daerah lain. Mobilitas penduduk yang tinggi menuntut kesiapan sistem kesehatan yang kuat. Melalui seminar ini kami berharap lahir berbagai gagasan dan rekomendasi yang dapat mendukung kebijakan kesehatan, baik di tingkat daerah maupun nasional,” ujarnya.
Seminar menghadirkan empat narasumber yang memiliki kompetensi di bidang kesehatan masyarakat dan pengendalian penyakit, yakni Prof. Defriman Djafri, S.KM., M.KM., Ph.D. (Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas), Ahmad Hidayat, S.KM., M.Epid. (Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Batam), Dr. Aries Fhariandi, S.Sos., M.Si. (Kepala Bappeda Provinsi Kepulauan Riau), serta Htet Zaw Shein, M.D., M.A., M.B.A., M.P.H., Ph.D. dari Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand.
Keempat narasumber mengulas berbagai isu strategis, mulai dari dampak pencemaran pesisir terhadap kesehatan masyarakat, pengawasan lalu lintas orang dan barang di pintu masuk negara oleh Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan, regulasi pengendalian penyakit di wilayah perbatasan, hingga pengalaman Thailand dalam menerapkan sistem pengendalian penyakit di kawasan perbatasan (Disease Control at Border Areas).
Diskusi berlangsung dinamis dengan antusiasme tinggi dari peserta, baik yang hadir secara langsung maupun secara daring. Berbagai pertanyaan mengemuka mengenai strategi menghadapi ancaman penyakit menular, penguatan sistem surveilans kesehatan, serta pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga ketahanan kesehatan masyarakat. Jalannya seminar dipandu oleh Lora Patil Tameo, S.KM., M.AP., mahasiswa Program Magister Kesehatan Masyarakat UIS, yang berhasil mengarahkan diskusi secara komunikatif dan interaktif.
Seminar ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam mempererat sinergi antara akademisi, pemerintah, tenaga kesehatan, dan mitra internasional dalam menghadapi tantangan kesehatan global yang terus berkembang, terutama di kawasan perbatasan dan daerah industri seperti Provinsi Kepulauan Riau.
Seminar ini menjadi forum ilmiah yang mempertemukan mahasiswa, tenaga kesehatan, akademisi, praktisi, serta masyarakat umum untuk membahas tantangan pengendalian penyakit di wilayah perbatasan dan kawasan industri, sekaligus memperkuat kolaborasi dalam membangun sistem kesehatan yang tangguh di Provinsi Kepulauan Riau.
Mewakili Wali Kota Batam, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Batam, Melda Sar, S.Kep., M.M., membuka kegiatan sekaligus menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor kesehatan dalam menghadapi ancaman penyakit lintas negara.
Menurutnya, Batam sebagai gerbang utama Indonesia yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia memiliki posisi strategis dalam menjaga kesehatan masyarakat sekaligus mengantisipasi masuknya penyakit akibat tingginya mobilitas manusia.
Sementara itu, Wakil Rektor I Universitas Ibnu Sina, Dr. Fitri Sari Dewi, S.KM., M.KKK., mengapresiasi atas terselenggaranya seminar sebagai implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pengabdian kepada masyarakat.
Ia berharap seminar ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga mampu memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dengan pemerintah, dunia kesehatan, dan berbagai pemangku kepentingan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.
Senada dengan itu, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Ibnu Sina, Dr. Hengky Oktarizal, S.KM., M.KM., mengatakan isu kesehatan migrasi dan pengendalian penyakit di wilayah perbatasan merupakan tantangan yang semakin kompleks sehingga memerlukan pendekatan multidisiplin.
“Wilayah perbatasan memiliki karakteristik yang berbeda dengan daerah lain. Mobilitas penduduk yang tinggi menuntut kesiapan sistem kesehatan yang kuat. Melalui seminar ini kami berharap lahir berbagai gagasan dan rekomendasi yang dapat mendukung kebijakan kesehatan, baik di tingkat daerah maupun nasional,” ujarnya.
Seminar menghadirkan empat narasumber yang memiliki kompetensi di bidang kesehatan masyarakat dan pengendalian penyakit, yakni Prof. Defriman Djafri, S.KM., M.KM., Ph.D. (Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas), Ahmad Hidayat, S.KM., M.Epid. (Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Batam), Dr. Aries Fhariandi, S.Sos., M.Si. (Kepala Bappeda Provinsi Kepulauan Riau), serta Htet Zaw Shein, M.D., M.A., M.B.A., M.P.H., Ph.D. dari Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand.
Keempat narasumber mengulas berbagai isu strategis, mulai dari dampak pencemaran pesisir terhadap kesehatan masyarakat, pengawasan lalu lintas orang dan barang di pintu masuk negara oleh Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan, regulasi pengendalian penyakit di wilayah perbatasan, hingga pengalaman Thailand dalam menerapkan sistem pengendalian penyakit di kawasan perbatasan (Disease Control at Border Areas).
Diskusi berlangsung dinamis dengan antusiasme tinggi dari peserta, baik yang hadir secara langsung maupun secara daring. Berbagai pertanyaan mengemuka mengenai strategi menghadapi ancaman penyakit menular, penguatan sistem surveilans kesehatan, serta pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga ketahanan kesehatan masyarakat. Jalannya seminar dipandu oleh Lora Patil Tameo, S.KM., M.AP., mahasiswa Program Magister Kesehatan Masyarakat UIS, yang berhasil mengarahkan diskusi secara komunikatif dan interaktif.
Seminar ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam mempererat sinergi antara akademisi, pemerintah, tenaga kesehatan, dan mitra internasional dalam menghadapi tantangan kesehatan global yang terus berkembang, terutama di kawasan perbatasan dan daerah industri seperti Provinsi Kepulauan Riau.





