UIS – Kesempatan menunaikan ibadah umroh ke Tanah Suci Mekkah kini menjadi bagian dari program universitas. Melalui program Apresiasi kesejahteraan yang diberikan kampus atas capaian kinerja tahunan, seluruh staf ditargetkan dapat melaksanakan ibadah tersebut secara bertahap dalam enam tahun ke depan, dengan kuota keberangkatan sebanyak 20 orang setiap tahunnya mulai 2027.
Program yang mulai dijalankan tersebut, menjadi salah satu bentuk perhatian UIS terhadap kesejahteraan karyawan, sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka untuk merencanakan keberangkatan ibadah umroh melalui mekanisme apresiasi yang lebih terarah.
Rektor UIS, Dr. Ir. Larisang, ST., MT., IPU., ASEAN Eng., menjelaskan, program tersebut dirancang sebagai bentuk apresiasi terhadap karyawan oleh universitas. Melalui mekanisme ini, karyawan dapat mempersiapkan keberangkatan, sementara kebutuhan tambahan di luar dana pokok menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing.
Menurut Larisang, program apresiasi umroh merupakan salah satu upaya universitas untuk memberikan manfaat jangka panjang kepada karyawan, tidak hanya dalam bentuk peningkatan kesejahteraan, tetapi juga dukungan terhadap pemenuhan kebutuhan spiritual.
“Saya berpandangan, setiap muslim pasti bercita-cita pergi ke Tanah Suci Mekkah. Kalau ibadah haji, biayanya relatif tinggi dan waktu tunggunya lama. Maka, kampus memeberikan apresiasi berupa keberangkatan umroh,” ujar Larisang di sela-sela pembahasan Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) UIS di Planet Hotel, (20/10/2026). Ia berharap program tersebut dapat memberikan motivasi tersendiri bagi karyawan untuk terus meningkatkan produktivitas, kedisiplinan, dan kualitas pelayanan di lingkungan universitas.
Rencana keberangkatan 20 orang setiap tahun, UIS menargetkan seluruh karyawan dapat memperoleh kesempatan menunaikan ibadah umroh dalam kurun waktu enam tahun kedepan. Pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap melalui perencanaan keberangkatan.
Selain membahas program kesejahteraan karyawan, forum RKAT UIS juga menitikberatkan pada penetapan skala prioritas program kerja
Ketua Yayasan Pendidikan Ibnu Sina (Yapista), drg. Andi Tenri Ummu, MM., menekankan pentingnya penyusunan program yang realistis dengan mempertimbangkan kemampuan dan keterbatasan sumber daya yang dimiliki universitas.
Menurutnya, setiap unit perlu membedakan program yang menjadi kebutuhan utama dengan kegiatan pendukung agar penggunaan anggaran dapat diarahkan pada sasaran yang benar-benar memberikan manfaat bagi pengembangan institusi.
Ia juga mengharapkan adanya kerja sama dan pemahaman dari seluruh unit dalam menyusun maupun melaksanakan program kerja. Keterbatasan anggaran perlu disikapi melalui penentuan prioritas yang tepat, bukan sekadar memperbanyak kegiatan tanpa mempertimbangkan hasilnya.
Dalam arahannya, Ketua Yapista turut menekankan pentingnya evaluasi program secara berkala. Setiap kegiatan yang telah direncanakan diharapkan dapat dievaluasi setiap tiga bulan untuk mengetahui tingkat pencapaian dan efektivitas pelaksanaannya.
Program yang menunjukkan hasil baik dan menjadi keunggulan universitas perlu dipertahankan serta ditingkatkan. Sebaliknya, program yang belum mencapai sasaran harus dievaluasi untuk menemukan langkah perbaikan.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membangun budaya kerja yang lebih terukur, efektif, dan berorientasi pada hasil di seluruh unit UIS.
Melalui penguatan perencanaan anggaran, evaluasi kinerja, serta pelaksanaan program apresiasi kampus untuk keberangkatan umroh, UIS berupaya menyeimbangkan pengembangan kualitas institusi dengan perhatian terhadap sumber daya manusia yang menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi.
Program apresiasi kesejahteraan tersebut diharapkan tidak hanya membantu karyawan mewujudkan keinginan beribadah ke Tanah Suci, tetapi juga menjadi dorongan untuk meningkatkan semangat kerja, loyalitas, dan kontribusi terhadap kemajuan universitas.
Program yang mulai dijalankan tersebut, menjadi salah satu bentuk perhatian UIS terhadap kesejahteraan karyawan, sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka untuk merencanakan keberangkatan ibadah umroh melalui mekanisme apresiasi yang lebih terarah.
Rektor UIS, Dr. Ir. Larisang, ST., MT., IPU., ASEAN Eng., menjelaskan, program tersebut dirancang sebagai bentuk apresiasi terhadap karyawan oleh universitas. Melalui mekanisme ini, karyawan dapat mempersiapkan keberangkatan, sementara kebutuhan tambahan di luar dana pokok menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing.
Menurut Larisang, program apresiasi umroh merupakan salah satu upaya universitas untuk memberikan manfaat jangka panjang kepada karyawan, tidak hanya dalam bentuk peningkatan kesejahteraan, tetapi juga dukungan terhadap pemenuhan kebutuhan spiritual.
“Saya berpandangan, setiap muslim pasti bercita-cita pergi ke Tanah Suci Mekkah. Kalau ibadah haji, biayanya relatif tinggi dan waktu tunggunya lama. Maka, kampus memeberikan apresiasi berupa keberangkatan umroh,” ujar Larisang di sela-sela pembahasan Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) UIS di Planet Hotel, (20/10/2026). Ia berharap program tersebut dapat memberikan motivasi tersendiri bagi karyawan untuk terus meningkatkan produktivitas, kedisiplinan, dan kualitas pelayanan di lingkungan universitas.
Rencana keberangkatan 20 orang setiap tahun, UIS menargetkan seluruh karyawan dapat memperoleh kesempatan menunaikan ibadah umroh dalam kurun waktu enam tahun kedepan. Pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap melalui perencanaan keberangkatan.
Selain membahas program kesejahteraan karyawan, forum RKAT UIS juga menitikberatkan pada penetapan skala prioritas program kerja
Ketua Yayasan Pendidikan Ibnu Sina (Yapista), drg. Andi Tenri Ummu, MM., menekankan pentingnya penyusunan program yang realistis dengan mempertimbangkan kemampuan dan keterbatasan sumber daya yang dimiliki universitas.
Menurutnya, setiap unit perlu membedakan program yang menjadi kebutuhan utama dengan kegiatan pendukung agar penggunaan anggaran dapat diarahkan pada sasaran yang benar-benar memberikan manfaat bagi pengembangan institusi.
Ia juga mengharapkan adanya kerja sama dan pemahaman dari seluruh unit dalam menyusun maupun melaksanakan program kerja. Keterbatasan anggaran perlu disikapi melalui penentuan prioritas yang tepat, bukan sekadar memperbanyak kegiatan tanpa mempertimbangkan hasilnya.
Dalam arahannya, Ketua Yapista turut menekankan pentingnya evaluasi program secara berkala. Setiap kegiatan yang telah direncanakan diharapkan dapat dievaluasi setiap tiga bulan untuk mengetahui tingkat pencapaian dan efektivitas pelaksanaannya.
Program yang menunjukkan hasil baik dan menjadi keunggulan universitas perlu dipertahankan serta ditingkatkan. Sebaliknya, program yang belum mencapai sasaran harus dievaluasi untuk menemukan langkah perbaikan.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membangun budaya kerja yang lebih terukur, efektif, dan berorientasi pada hasil di seluruh unit UIS.
Melalui penguatan perencanaan anggaran, evaluasi kinerja, serta pelaksanaan program apresiasi kampus untuk keberangkatan umroh, UIS berupaya menyeimbangkan pengembangan kualitas institusi dengan perhatian terhadap sumber daya manusia yang menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi.
Program apresiasi kesejahteraan tersebut diharapkan tidak hanya membantu karyawan mewujudkan keinginan beribadah ke Tanah Suci, tetapi juga menjadi dorongan untuk meningkatkan semangat kerja, loyalitas, dan kontribusi terhadap kemajuan universitas.







