UIS – Berawal dari keinginan berbuat lebih, dari sebuah mushala sederhana di kawasan Jodoh melahirkan pemikiran dan dimulainya perjalanan Yayasan Pendidikan Ibnu Sina (Yapista) yang menjelma menjadi salah satu lembaga pendidikan menaungi sekolah hingga perguruan tinggi di Kota Batam. Kisah perjuangan tersebut kembali diangkat dalam peringatan Milad ke-49 Yapista yang digelar di Aula Yapista, Senin (20/7/2026).
Dalam rangkaian milad tersebut, tausiah agama disampaikan penulis buku biografi pendiri Yapista sekaligus Ketua STAI Ibnu Sina, Dr. Muhammad Juni Beddu, Lc., M.A. Ia mengulas perjalanan hidup almarhum H. Andi Ibrahim, sosok mubalig yang menjadi pendiri Yayasan Pendidikan Ibnu Sina.
Menurut Dr. Muhammad Juni Beddu, semangat dakwah H. Andi Ibrahim menjadi fondasi lahirnya Yapista. Pada awal tahun 1974, ketika jumlah mubalig di Batam masih sangat terbatas, H. Andi Ibrahim berkeliling berbagai wilayah untuk menyampaikan dakwah Islam. Selama menjalankan aktivitas tersebut, ia tinggal bersama rekannya di Mushala Darul Hikmah, Jodoh.
“Dari mushala inilah embrio Yayasan Pendidikan Ibnu Sina mulai tumbuh. Berbekal semangat dakwah dan kepedulian terhadap pendidikan, beliau kemudian mendirikan Yayasan Pendidikan Ibnu Sina tepat pada 14 Juli 1977, diawali dengan membuka Sekolah Dasar,” ungkapnya.
Dalam tausiahnya, ia juga membagikan dua petuah H. Andi Ibrahim yang hingga kini tetap relevan. Petuah pertama berbunyi, “Kalau merantau, carilah tempat tinggal di dekat masjid agar hidup mendapatkan keberkahan.” Nasihat tersebut menggambarkan pentingnya menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan akhlak dan kehidupan masyarakat.
Petuah kedua adalah prinsip “memanusiakan manusia”, yang kini menjadi slogan sekaligus ruh perjuangan Yayasan Pendidikan Ibnu Sina dalam menyelenggarakan pendidikan.
Dalam rangkaian milad tersebut, tausiah agama disampaikan penulis buku biografi pendiri Yapista sekaligus Ketua STAI Ibnu Sina, Dr. Muhammad Juni Beddu, Lc., M.A. Ia mengulas perjalanan hidup almarhum H. Andi Ibrahim, sosok mubalig yang menjadi pendiri Yayasan Pendidikan Ibnu Sina.
Menurut Dr. Muhammad Juni Beddu, semangat dakwah H. Andi Ibrahim menjadi fondasi lahirnya Yapista. Pada awal tahun 1974, ketika jumlah mubalig di Batam masih sangat terbatas, H. Andi Ibrahim berkeliling berbagai wilayah untuk menyampaikan dakwah Islam. Selama menjalankan aktivitas tersebut, ia tinggal bersama rekannya di Mushala Darul Hikmah, Jodoh.
“Dari mushala inilah embrio Yayasan Pendidikan Ibnu Sina mulai tumbuh. Berbekal semangat dakwah dan kepedulian terhadap pendidikan, beliau kemudian mendirikan Yayasan Pendidikan Ibnu Sina tepat pada 14 Juli 1977, diawali dengan membuka Sekolah Dasar,” ungkapnya.
Dalam tausiahnya, ia juga membagikan dua petuah H. Andi Ibrahim yang hingga kini tetap relevan. Petuah pertama berbunyi, “Kalau merantau, carilah tempat tinggal di dekat masjid agar hidup mendapatkan keberkahan.” Nasihat tersebut menggambarkan pentingnya menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan akhlak dan kehidupan masyarakat.
Petuah kedua adalah prinsip “memanusiakan manusia”, yang kini menjadi slogan sekaligus ruh perjuangan Yayasan Pendidikan Ibnu Sina dalam menyelenggarakan pendidikan.

Selama hampir lima dekade, Yapista terus berkembang. Dari sebuah sekolah dasar, kini yayasan mengelola berbagai jenjang pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, dan SMK yang ada di Kecamatan Lubuk Baja dan Kecamatan Nongsa. Yapista juga menaungi dua perguruan tinggi, yaitu Universitas Ibnu Sina dan STAI Ibnu Sina.
Ketua Yayasan Pendidikan Ibnu Sina, drg. Andi Tenri Ummu, M.M., mengatakan memasuki usia ke-49 tahun, Yapista terus berkomitmen melanjutkan cita-cita para pendiri dalam menghadirkan pendidikan yang berkualitas sekaligus berkarakter.
“Alhamdulillah, di usia ke-49 ini Yapista terus maju dan berkembang. Apa yang dicita-citakan oleh founding father perlahan dapat diwujudkan, yaitu menjadikan Yayasan Pendidikan Ibnu Sina sebagai lembaga pendidikan yang memanusiakan manusia,” ujarnya.
Ia menambahkan, nilai-nilai yang diwariskan H. Andi Ibrahim tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi pedoman dalam membangun budaya pendidikan di seluruh unit yang berada di bawah naungan Yapista.
Peringatan Milad ke-49 Yapista berlangsung khidmat dan dihadiri oleh jajaran pengurus yayasan, pimpinan sekolah dan perguruan tinggi, dosen, guru, tenaga kependidikan, serta tamu undangan. Momentum tersebut menjadi refleksi perjalanan panjang Yapista sekaligus penguat untuk terus mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ketua Yayasan Pendidikan Ibnu Sina, drg. Andi Tenri Ummu, M.M., mengatakan memasuki usia ke-49 tahun, Yapista terus berkomitmen melanjutkan cita-cita para pendiri dalam menghadirkan pendidikan yang berkualitas sekaligus berkarakter.
“Alhamdulillah, di usia ke-49 ini Yapista terus maju dan berkembang. Apa yang dicita-citakan oleh founding father perlahan dapat diwujudkan, yaitu menjadikan Yayasan Pendidikan Ibnu Sina sebagai lembaga pendidikan yang memanusiakan manusia,” ujarnya.
Ia menambahkan, nilai-nilai yang diwariskan H. Andi Ibrahim tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi pedoman dalam membangun budaya pendidikan di seluruh unit yang berada di bawah naungan Yapista.
Peringatan Milad ke-49 Yapista berlangsung khidmat dan dihadiri oleh jajaran pengurus yayasan, pimpinan sekolah dan perguruan tinggi, dosen, guru, tenaga kependidikan, serta tamu undangan. Momentum tersebut menjadi refleksi perjalanan panjang Yapista sekaligus penguat untuk terus mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.



